EFEK PERBEDAAN JENIS PAKAN DAN HABITAT TERHADAP NILAI FEMALE MATURITY INDEX (FMI) PADA PENELURAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

Muhammad Zulhafid, G. Nugroho Susanto, Sri Murwani

Abstract


Kepiting bakau (Scylla serrata) adalah salah satu jenis komoditas perikanan yang potensial untuk dikembangkan, karena memiliki nilai gizi yang tinggi. Permintaan masyarakat terhadap jenis kepiting bakau ini cukup besar, sehingga menyebabkan penangkapan besar-besaran terhadap stok di alam. Salah satu usaha budidaya yang dirasa cukup potensial untuk mengatasi dampak tersebut adalah dengan cara produksi peneluran kepiting bakau matang gonad yang pemeliharaannya lebih mudah dan singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan nilai Female Maturity Index (FMI) selama tahap peneluran dan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis pakan dan habitat yang berbeda terhadap nilai Female Maturity Index. Kepiting bakau betina yang belum berisi telur diberi perlakuan berupa perbedaan habitat pemiliharaan yaitu kawasan aliran pasang surut dan kawasan mangrove serta diberi tiga jenis pakan yang berbeda yaitu ikan rucah, cumi-cumi, dan kerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dan habitat yang berbeda tidak memberikan efek yang nyata terhadap perkembangan nilai FMI. Pemberian pakan cumi-cumi dan pemeliharaan di habitat mangrove berpengaruh nyata (α=0,05) terhadap pertambahan lebar segmen abdomen ke 5, abdomen terbesar dan berat tubuh kepiting bakau pada masa peneluran. Pemberian jenis pakan dan habitat yang berbeda tidak menyebabkan pertambahan panjang dan lebar karapas kepiting bakau.

Keywords


kepiting bakau; nilai FMI; habitat; jenis pakan

Full Text:

PDF

References


Akiyama, D.M., Dominy, W.G. and Lawrence, A.L. 1991.Penaeid shrimp nutrition for the commercial feed industry: Revised. Proceedings Aquaculture Feed Processing and Nut Workshop. Singapore, American Soy Bean Association.

Astawan, 2009. Pengaruh Efek Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) Di Laguna Gasang Gadang. Jurnal Penelitian Mangrove dan Pesisir.

Arriola, F. J. 1940. A Primary Study Of The Life History Of Scylla serrata Forskal. Philip. J. Sci : 437-456

Bombeo-Tuburan, I. E.B. Coniza., E.M. Rodrigues and R.F. Agbayani. 1999. Culture and Economic of Wild Grouper (Epinephelus coioides) using three type of feed in pond. Aquaculture. 131 (2): 229-240.

Catacutan, M. R., 2002. Growth and Body Composition of Juvenile Mud Crab, Scylla serrata, Fed Different Dietary Protein and Lipid Levels and Protein to Energy Ratio. Aquaculture 208: 113-123.

Cholik, F. 2005. Review of Mud Crab Culture Research in Indonesia. Central Research Institute for Fisheries 310 CRA: Jakarta

Djuwito, S.R., Hartoko, A. and Sulardiono, B. 1992. Technology development of mud crab culture for hatchery and grow-out ponds. Fisheries Department, Faculty of Animal Husbandry, Diponegoro University

Effendi. 1978. Biologi Perikanan. Fakultas perikanan IPB. Bogor.

Efrizal, Nurman, dan Novriansyah. 2001. Luas ruang gerak yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla serrata) pada keramba bambu system sekat. Jurnal Penelitian Mangrove dan Pesisir 5(1): 13-21.

Giri, N. A., Yunus, K. Suwirya & M. Marzuki. 2002. Kebutuhan protein untuk pertumbuhan Juvenil kepiting bakau Scylla serrata. J.Penel. Perik, Indonesia. 8(5): 31-36.

Jauncey, K. and Ross, B. 1982. Tilapia Feed and Feeding. Institute of Aquaculture, University of Stirling, Scotland, UK.

Kanazawa, A. 1982. Penaeid nutrition. In: Pruder, G.D., Langdon, C.J. and Conklin, D.E. ed. Proceedings of the Second International Conference on Aquaculture Nutrition: Biochemical and Physiological Approaches to Shellfish Nutrition, Baton Rouge, LA, Louisiana State University, 87–105.

Kanna, A.2002. Budidaya Kepiting Bakau : Pembenihan dan Pembesaran. Kanisius. Jakarta.

Karim, M. Y., 2005. Kinerja Pertumbuhan Kepiting Bakau Betina (Scylla serrata Forsskal) pada Berbagai Salinitas Media dan Evaluasinya pada Salinitas Optimum dengan Kadar Protein Pakan Berbeda. Disertasi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kuntiyo, A. Zaenal dan T. Supratno. 1994. Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata) di tambak dengan sistem Progesy. Dalam laporan tahunan Balai Budidaya Air Payau 1994-1995. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen Pertanian, Jakarta.

Locwood, A. P. M. 1967. Aspect of The Fisiology of Crustacea. W. H. Freeman And Comp. San Fansisco

Motoh, H. 1979. Edible Crustaceans In The Philipinnes, 11th . In A Series Asian Aquaculture. 2 (10): 5.

Novian. 2008. Karakteristik miofibril Kering Ikan Kuniran (Upeneus sp.) Diekstrak Menggunakan Enzim Papain dengan Metode Press Panas. September. 2008. 10 Januari 2011.

O’connor. 2007. Aspects of the general biology and fishery of the mud crab Scylla serrata (Forskål) in Moreton Bay. Ph.D. Thesis, University of Queensland

Poovachiranon, S. 1991. Biological Studies of The Mud Crab Scylla serrata (Forskal) Of The Mangrove Ecosystem In The Andaman Sea. Report of the Mud Crab Culture and Trade Held at Swat, Thailand.

Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum Banyuasin.

Suharsono, 1988. Pengaruh Efek Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) Di Laguna Gasang Gadang. Jurnal Penelitian Mangrove dan Pesisir.




DOI: http://dx.doi.org/10.23960%2Fj-bekh.v1i1.2084

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


J-BEKH: Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati
Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung
Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandarlampung
Lampung 35145


This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.