EVALUASI KOMUNITAS TERUMBU KARANG DI PERAIRAN CAGAR ALAM LAUT KRAKATAU

Novriadi Novriadi, Endang L. Widiastuti, Rikha Aryanie Surya

Abstract


Cagar Alam Laut Krakatau berada di daerah vulkanik Gunung Anak Krakatu. Aktivitas seismik yang diakibatkan oleh magma chamber Anak Krakatau menyebabkan goncangan pada dasar laut yang memungkinkan bergesernya substrat yang menjadi tempat terumbu karang tumbuh, Selain itu debu vulkanik akan mempengaruhi kalsifikasi dan pertumbuhan karang sehingga karang yang terbentuk akan rapuh dan rentan terhadap pengaruh lingkungan, seperti arus dan goncangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terkini komunitas serta keanekaragaman terumbu karang di Cagar Alam Laut Krakatau. Penelitian dilakukan dari bulan Juli sampai Oktober 2012. Perairan yang menjadi stasiun penelitian adalah perairan Pulau Rakata. Metode manta tow digunakan pada saat survei pendahuluan dan metode Line Intercept Transect (LIT) digunakan dalam pengambilan data terumbu karang. Stasiun penelitian yang berda di perairan Pulau Rakata dibagi menjadi empat titik pengambilan sampel. pada kedalaman 5 meter dengan panjang transek 50 meter searah garis pantai. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 27 spesies dalam 7 famili terumbu karang yang ditemukan pada stasiun penelitian kondisinya bervariasi dari baik sekali hingga rusak dengan tingkat tutupan berkisar antara 90,88%, 56,54%,dan 38,32 %.

Keywords


Terumbu Karang; Cagar Alam Laut Krakatau; Line Intercept Transect (LIT)

Full Text:

PDF

References


Barnes, D. R. 1980. Invertebrate Zoology Fifth Edition. Sounders college. Philadelphia.

Boltovskoy, E. and R. Wright. 1976. Recent foraminifera. In: W. JUNK (ed.) Foraminifera. The Hague, Netherland.

Buzas, M. A. and S.J. culver. 1982. Biogeography of modern benthic foraminifera In :B. K. Sen Gupta (ed.) Modern Foraminifera. Univer-sity of Tennessee Studies in Geology 6: 90–106.

Chapman. F. 1902. The Foraminifera. An introduction to the study of the Protozoa. Longmans, Green and Co, London: 354 pp.

Dahl, A.L. 1981.Coral reef monitoring handbook. South Pacific Commis-sion Noumea, New Caledonia.

Hallock, P. 1981. Light dependence in Amphistegina. J. of Foraminifera Research 11 (1): 40–46.

Hallock, P; B.H. Lidz; E.M. Cockey-Burkhard and K.B. Donnelly. 2003. Foraminifera as bioindicators in coral reef assessment and monitoring the Foram Index Environmental Moni-toring and Assessment 81(3):221–238.

Kennedy, C. and Ziedler, W. 1976. The preparation of oriented thin sec-tions in micropaleontology: an improved method for revealing the internal morphology of foraminifera and other microfossils. Mycropa-leontology 22 (1): 104–107.

Natsir. 2010. Foraminifera Bentik Sebagai Indikator Kondisi Lingkungan Terumbu Karang Perairan Pulau Kotok Besar Dan Pulau Nirwana, Kepulauan Seribu. Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI. Jakarta.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Alih Bahasa H. M. Eidma, Koesbiantoro, D. G. Benger, M. Hutomo, dan S. Sukarjo.Gramedia. Jakarta.

Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Alih Bahasa : H. M. Eidma, Koesbiantoro et el. Gramedia. Jakarta.

Putranto, S. 1997. Pengaruh Sedimntasi dan Limbah Terproduksi terhadap Komunitas Terumbu Karang Di Selat Sele, Serong-Irian Jaya. Institut Pertanian Bogor.

Suharsono. 1987. Pertumbuhan Karang. Oseano Vol IX No.2. Puslitbang Oseanologi-LIPI Jakarta.

Suharsono. 1996. Jenis-jenis Karang Yang Umum Dijumpai Di Perairan Indonesia. Puslitbang oseanologi-LIPI Jakarta.

Suharsono. 1998. Kesadaran masyarakat tentang terumbu karang (kerusakan di Indonesia). LIPI. Jakarta.

Soekarno. 1983. Kandungan zooxanthellae pada karang batu di terumbu karang pulau pari. Oseanologi di Indonesia.

Supriharyanto. 2000. Pelestarian dan pengelolaan sumberdaya alam di wilayah pesisir tropis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Timotius. 2003. Karakteristik terumbu karang. Makalah trining course. Yayasan terumbu karang indonesia.

Tomascik, T. A. J. Mah. K. Moosa. 1997. The Ecology Of The Indonesia Sea. . periplus edition.

UNEP. 1993. Monitoring Coral Reef For Global Change. Nairobi. United State Environment Program.

Veron, J. E. N. 2000. Coral in space in time: the biography and evolution of the sclerentinia. AIMS. Corell university press. Ithaca and London.

Veron, J. E. N. 1988. Sclerentanian Of Eastern Australian. AIMS, Monogr. Ser, 4. Australian Gov, Pub Ser, Canberra. 422p.

Wallace, C.C. and Wolstenholme, J. 1999. Revision Of The Coral Genus Acropora (Sclerentina: Astrocoeniina: Acroporidae) From Indonesia. Zool. J. Linnean Soc. 123: 199-384.

Wood, E.M. 1983. Reefs of the world. Biology and Guide. T.T.H. Publications, Inc.,LTD. Hongkong.

YAMANO, H; T. 2000. Importance of foraminifera for the formation and maintenance of a coral sand cay: Green Island, Australia. Coral.Reefs’(19)’:’51–58.




DOI: http://dx.doi.org/10.23960%2Fj-bekh.v1i1.2081

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


J-BEKH: Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati
Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung
Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandarlampung
Lampung 35145


This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.